Resensi Buku Guru Aini : Prekuel Novel Orang-Orang Biasa karya Andrea Hirata

Kisah Keteguhan Hati Seorang Pecinta Pelajaran Matematika



Judul Buku :  Guru Aini : Prekuel Novel Orang-Orang Biasa

Pengarang: Andrea Hirata

Penerbit: Bentang Pustaka, 2020

Kota: Yogyakarta

Jumlah halaman: 336 halaman


Namanya tertulis begitu jelas dengan huruf kapital pada sampul buku berwarna kuning. Dia adalah Andrea Hirata, seorang penulis buku bertaraf internasional yang karyanya tersebar di berbagai penjuru dunia. Andrea Hirata mulai dikenal masyarakat melalui novel yang sangat terkenal, Laskar Pelangi. Novel tersebut begitu memukau masyarat dunia karena isinya begitu inspiratif, cocok dibaca banyak kalangan dan sangat menghibur. Tanpa bermaksud membandingkan, novel Guru Aini yang akan kita resensi ini tidak kalah dengan Laskar Pelangi, tetap inspiratif dan sangat menghibur. Hal ini menunjukkan karir kepenulisan Andrea Hirata tidaklah terhenti seusai Laskar Pelangi, ia tetap kreatif menulis.

Novel Guru Aini merupakan novel yang secara khusus memberikan perhatian lebih kepada sebuah mata pelajaran, yaitu matematika melalui tokoh-tokoh seperti Desi, Aini, Debut Awaludin dan lain-lain. Cerita bermula dari kegigihan maha dahsyat yang dimiliki seorang lulusan D3 Guru Matematika bernama Desi Istiqomah. Ia begitu menggebu-nggebu untuk mewujudkan cita-citanya menjadi guru matematika. Walaupun dipaksa ibunda tercinta untuk meneruskan bisnis ayahnya yang sudah mapan dengan penghasilan yang melimpah ruah, ia tetap teguh pendirian, menjadi guru matematika.

Selepas lulus, Desi bertugas menjadi guru matematika SMA di Ketumbi, Tanjong Hampar di pelosok Sumatera. Butuh waktu hampir seminggu untuk tiba di sana. Desi harus berganti-ganti sarana transportasi mulai dari bus yang kadang penuh berisi penumpang, kadang kosong. Juga bus yang ditumpangi orang-orang berdasi yang tidak peduli dengan Desi yang membawa tas besar. Atau sebaliknya bus yang berisi orang-orang sederhana namun justru mempersilakan Desi untuk duduk. Desi juga harus menumpang kapal yang membuatnya mabuk laut.

Tiba di Ketumbi, ia disambut dengan ramah oleh orang-orang di sana dengan panggilan bu Guru. Ternyata sebelumnya sudah ada informasi bahwa akan datang seorang guru matematika. Desi adalah seorang guru idealis yang hanya fokus mendidik murid-muridnya menjadi pintar. Sampai-sampai ia hampir frustasi karena setelah bertahun-tahun mengajar, tidak ada satupun anak yang pintar matematika seperti dirinya.

Sampai kemudian muncullah seorang siswa bernama Debut Awaludin yang memiliki kecerdasan dan minat terhadap matematika. Ini membuat Guru Desi bersemangat. Akan tetapi, Debut justru bertingkah sendiri, ia lebih memilih bergerombol dengan teman-temannya yang lain dan meninggalkan matematika. Bu Guru Desi patah semangat lagi.

Waktupun bergulir hingga bertahun-tahun berikutnya tidak ada seorangpun anak yang secerdas Debut. Guru Desi kehilangan semangat lagi. Sampai suatu ketika, seorang anak bernama Aini yang terkenal paling bodoh di sekolah, meminta Guru Desi untuk mengajari matematika.

Tentu saja Guru Desi kaget bukan kepalang. Bagaimana mungkin Aini yang sama sekali terlihat tidak menyukai matematika, tiba-tiba memohon Guru Desi untuk mengajar. Benar saja, setelah berminggu-minggu belajar matematika, Aini tidak menunjukkan perkembangan sama sekali.

Hal ini membuat Guru Desi jengkel. Sampai pada suatu hari ia menemukan metode pembelajaran yang tepat untuk Aini. Dicobalah metode tersebut. Ternyata berhasil !. Aini perlahan tapi pasti mulai mendapat nilai bagus dan prestasi puncaknya ia berhasil meraih nilai 10 untuk pelajaran matematika dan mendapat peringkat tiga terbaik ketika lulus sekolah.

Novel ini, sebagaimana novel Andrea Hirata lainnya, selalu saja mengaduk-aduk perasaan. Kita diajak untuk tersenyum geli, bahkan kadang bisa tertawa terbahak-bahak saat membaca kata demi kata. Sebaliknya kita bisa juga tanpa terasa meneteskan air mata karena terharu. Pada saat lain, Andrea Hirata mengajak pembaca untuk menyadari pentingnya Matematika dalam kehidupan ini. Matematika adalah hal yang sangat penting untuk dipelajari anak bangsa ini. 

Meskipun demikian, saya menemukan ada sedikit kesalahan penulisan dalam novel ini, yakni pada halaman 27, tertulis mengiktui, seharusnya mengikuti

Saya menyarankan, terutama bagi para pelajar, bacalah novel ini, sangat memotivasi, menginspirasi dan tentu saja menghibur.


Arif Rahmawan, petugas perpustakaan

Resensi Buku Hadji Tempo Doeloe - Kisah Klasik Perjalanan Haji Zaman Dahulu - Emsoe Abdurrahman

Kisah Perjalanan Haji Indonesia Sejak Zaman Hindia Belanda, bahkan Sebelumnya



Judul Buku: HADJI TEMPO DOELOE - Kisah Klasik Berangkat Haji Zaman Dahulu

Pengarang: Emsoe Abdurrahman

Penerbit: Alim - Imprint of Penerbit MCM

Tahun Terbit: 2019 Cetakan 1

Tebal: 242 hlm.


Ini buku sejarah, kisah tentang perjalanan haji umat Islam pada masa lampau, bahkan hingga ke abad ke 14. "Dikisahkan dalam naskah cerita Parahiyangan, seorang bernama Bratalegawa, putra kedua Prabu Jayadewabrata atau sang Bunisora penguasa kerajaan Galuh (1357-1371) yang menunaikan haji ke Mekkah." (halaman 2).  

Upaya penulis, Emsoe Abdurrahman, mengumpulkan data hingga jauh ke masa lalu, bukan hanya sejak Hindia Belanda, merupakan hal yang sangat menarik dan membutuhkan energi lebih. Ia menelusur jauh ke berbagai sumber termasuk naskah kuno yang berkaitan dengan perjalanan haji.

Termasuk laporan perjalanan Ludovico di Varthema (Lewis Barthema). "Pelancong yang satu ini berada di kota suci itu sekitar tahun 930 H (1504 H). Saat itu, Di Varthema mengamati ada banyak jamaah haji yang datang dari greater India (India besar, yaitu anak benua India) dan dari lesser India (India kecil, Insular India, atau kepulauan Nusantara). (halaman 4).

Keberangkatan jamaah haji juga dicatat oleh Dr. Hoesein Djajadiningrat, yang salah satunya mencatat tentang keberangkatan haji pada tahun 1630-an. Atau tokoh yang dianggap kontroversial seperti Snouck Hungronje yang mengungkapkan bahwa orang Indonesia yang akan menunaikan haji ke Makkah hampir tidak mengetahui cara untuk sampai ke sana. (halaman 37).  Akibatnya bisa anda baca sendiri dalam buku ini, tentu jauh berbeda dengan perjalanan haji pada masa modern ini. Haji pada masa lampau membutuhkan pengorbanan jiwa raga, mental, dan waktu. 

Buku ini begitu menarik karena menyajikan data dan fakta yang cukup akurat. Ditambah lagi dengan adanya gambar dan ilustrasi tentang perjalanan haji pada masa lampau. Pembaca bisa membayangkan bagaimana rumit dan berisikonya perjalanan haji ketika masih menggunakan kapal layar dan kapal uap. Salah satu hal yang juga tidak kalah menarik, penulis memberikan alasan mengapa Aceh disebut serambi Mekah. 

Nilai positif yang bisa diambil bangsa ini, khususnya umat Islam, perjalanan haji yang pada dasarnya merupakan bentuk peribadatan umat Islam, ternyata membutuhkan pengorbanan yang begitu besar bagi pemeluknya. Haji adalah perjalanan memenuhi rukun Islam yang risikonya jiwa. Alhamdulillah pada masa sekarang, perjalanan haji lebih mudah.

Saran saya, bagi penulis buku ini, pada edisi-edisi berikutnya, bisa ditambahkan lebih banyak sumber, agar pembaca bisa lebih merasakan bagaimana suasana haji saat lampau.


Arif Rahmawan, petugas perpustakaan

Resensi Buku Sejarah: Geger Sepoy Karya Lilik Suharmaji


Kisah Penghancuran Keraton Yogyakarta Oleh Raffles Beserta Intrik yang Menyertainya




Judul Buku: Geger Sepoy - Sejarah Kelam Perseteruan Inggris dengan Keraton Yogyakarta (1812-1815)

Pengarang :  Lilik Suharmaji

Penerbit: Araska Publisher, Yogyakarta

Cetakan: 1

Tahun Terbit: 2020

Tebal : 304 halaman


Sir Thomas Stamford Raffles. Nama tersebut begitu agung dan sangat bersejarah. Ia dikenal sebagai penulis buku monumental History Of Java, juga dikenal sebagai pemimpin Inggris di Hindia Belanda yang sangat mencintai kebudayaan. Dia begitu mengagumkan.

Setidaknya itulah yang terekam dalam benak kita. 

Buku berjudul Geger Sepoy ini bisa jadi akan mengubah cara pandang anda terhadap sosok Letnan Gubernur Sir Stamford Raffles, penguasa Hindia Belanda (1811-1816). Bahwa selain berjasa menemukan bunga Rafflesia Arnoldi, Raffles adalah perusak keraton Yogyakarta dalam arti sebenarnya.

Dalam buku ini, kita bukan hanya bisa membaca tentang Raffles sebagai tokoh sentral Geger Sepoy, namun kita juga disuguhi bagaimana peran tokoh-tokoh dinasti mataram dalam peristiwa tersebut.  Tokoh-tokoh lain yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung juga turut dihadirkan oleh penulis. Ia menjelaskan secara cukup terperinci tokoh-tokoh yang terlibat dalam peristiwa Geger Sepoy ini. Layaknya sebuah drama, penulis memberikan gambaran yang cukup jelas siapa dan bagaimana peran setiap tokoh.

Kita bisa membaca profil tokoh-tokoh tersebut dalam BAB I. Di sana ada nama-nama seperti Sultan Hamengku Buwono II, Sultan Hamengku Buwono III, Patih Danurejo II, Raden Ronggo Prawirodirjo III, Sunan Paku Buwono IV, Pangeran Prangwedono, Pangeran Notokusumo, Kapiten Tan Jin Sing, Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels, Letnan Gubernur Sir Thomas Stamford Raffles, dan Tentara Sepoy. 

Bagaimana peran mereka? kepada siapa mereka berpihak? Anda bisa membaca pada bab-bab selanjutnya dari buku ini.


Hubungan Keraton Surakarta dan Yogyakarta

Penulis memulai buku ini dengan menceritakan tentang berdirinya keraton Kesultanan Yogyakarta. Akan tetapi bukan sejak Panembahan Senopati, melainkan dibatasi sejak zaman Sultan Agung Hanyakrakusuma (1613-1646). Pada masa itu, kerajaan Yogyakarta sangat kuat dan memiliki wilayah yang luas.

Sayang sekali, sepeninggal Sultan Agung, penerusnya yaitu Sunan Amangkurat 1 sangat lemah. Pada saat itulah, VOC mulai ikut campur dalam urusan Keraton Mataram. Hingga akhirnya terpecahlah kerajaan Mataram menjadi dua, yaitu Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta sebagai hasil dari perundingan Giyanti 15 Februari 1755.  

Selain terjadi perpecahan Kerajaan Mataram tersebut, penulis juga menyajikan beragam konflik yang berlangsung antar tokoh di kedua kerajaan tersebut.

Misalnya, konflik di Surakarta yang terjadi antara Raden Mas Said dengan Sunan Paku Buwono II. R.M. Said terkenal sebagai tokoh anti VOC, sementara Sunan Paku Buwono II cenderung bersahabat dengan VOC.

Konflik lain terjadi antara Mangkubumi (Sultan Hamengkubuwono I) dan Raden Mas Said. Penyebabnya, Raden Mas Said meminta kepada Mangkubumi agar ia diangkat sebagai Pangeran Adipati Anom, ahli waris tahkta jika Mangkubumi menjadi raja. Tentu saja Mangkubumi menolak keras. (halaman 25)

Masih banyak konflik yang terjadi yang melibatkan tokoh-tokoh Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, VOC, Belanda, dan Inggris. Perseteruan terbesar adalah antara Sultan Sepuh (Sultan Hamengkubuwono II) melawan Raffles.

Menariknya, ketika penyerbuan itu terjadi, Kasunanan Surakarta maupun Mangkunegaran justru lebih berpihak kepada Raffles dengan porsi masing-masing. Jika Mangkunegaran terang-terangan bersama tentara Inggris (Sepoy) turut menyerbu istana Yogyakarta, Prajurit Surakarta memilih berhenti di perbatasan Surakarta-Yogyakarta untuk menghalau jika sewaktu-waktu ada prajurit yang membantu Yogyakarta.

Bukan hanya itu, di lingkungan internal kerajaan Yogyakarta, Sultan Sepuh juga tidak didukung oleh Sang Putra Mahkota dan tokoh-tokoh lain. Ketika Geger Sepoy terjadi pada 19 Juni 1812 – 20 Juni 1812, beliau dikeroyok banyak pihak.


Catatan Penting Buku Ini

Buku ini tidak semata-mata menceritakan proses terjadinya penghancuran disertai penjarahan besar-besaran yang dilakukan oleh Raffles,  tentara Inggris yang didominasi tentara dari Sepoy, dan pasukan Mangkunegaran terhadap Keraton Yogyakarta, tetapi juga sejarah perebutan kekuasaan antar dinasti mataram (keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta) yang melibatkan Belanda dan kemudian Inggris.

Ini merupakan buku yang penting untuk dibaca generasi muda, khususnya mereka yang ingin memahami secara cepat, bagaimana konflik-konflik di lingkungan dinasti mataram hingga berpuncak pada peristiwa Geger Sepoy.

Namun sayang, bisa jadi karena tergesa-gesa atau karena penyebab lain, saya menemukan banyak kesalahan penulisan dalam buku ini, yaitu lupa menggunakan tanda baca koma. Setidaknya saya melihat pada halaman 35, 62,65, 83,93, 103, 114, 131,146,153,171,172,193, dan 207. 

Ada juga kesalahan penulisan yaitu pada halaman 92, tertulis, "kedekatan Notokusumo dengan ayahandanya dikhwatirkan oleh...."

Kata dikhwatirkan seharusnya dikhawatirkan.

Lalu ada lagi, "...sehingga yang muncul kepermukaan...."

kepermukaan seharusnya ke permukaan.

Coba juga perhatikan salah satu kalimat ini.

"Ia dapat menguasai dengan 3 bahasa dunia yakni Cina, Jawa, dan Barat."

Apakah anda merasa janggal terhadap kalimat tersebut? Menurut saya setelah kata  dengan semestinya ditambah dengan kata baik. (halaman 105)

Masih ada lagi yaitu penggunaan kata ekspidisi pada halaman 147 seharusnya ekspedisi.

Meskipun demikian, saya tetap menyarankan anda membaca buku ini, sebelum berwisata ke kota Yogyakarta khususnya ke benteng Vrederburg. 


Arif Rahmawan, tenaga perpustakaan SMA N 1 Purwodadi

Resensi Buku Athirah - Sebuah Novel



Kesetiaan seorang Perempuan

Judul : Athirah - Sebuah Novel
Pengarang: Albertheine Endah
Penerbit: Noura Books, 2016
Tebal: 383 halaman

Tidak hanya piawai menulis biografi tokoh-tokoh besar, Alberthiene Endah rupanya juga terampil menulis novel. Hebatnya, novel yang disajikan oleh sang penulis tersebut adalah novel biografi. Sebagai sebuah karya, novel berlatarbelakang kisah nyata memiliki gaya tersendiri. Karya tersebut menjadi sangat menarik untuk dibaca. Kita seperti membaca sebuah riwayat hidup yang dibacakan dengan gaya bahasa yang tidak begitu kaku.

Setidaknya kesan itulah yang terdapat dalam novel berdasar kisah nyata yang berjudul Athirah. Novel ini menghadirkan sosok ibu bernama Athirah yang berjiwa lembut, cerdas, setia dan penuh semangat. Kehadiran sosok ibu tersebut dilengkapi dengan sosok-sosok lain yakni suami dan putra putrinya.

Halaman demi halaman buku ini mengisahkan sosok sang ibu yang begitu luar biasa dalam menjalani kehidupannya. Kisah pernikahan Athirah muda dengan sang suami yang awalnya mengalir indah,rupanya harus terganggu dengan pilihan hidup sang suami yang memutuskan menikah lagi. Athirah tiba-tiba merasa putus asa dan kehilangan semangat hidup.

Hal itulah yang disaksikan oleh putra sulung Athirah, Jusuf Kalla. Jusuf muda merasa terpukul menerima kenyataan sang ayah yang selama ini dikagumi ternyata memilih berpoligami. Hal yang semakin menambah pedih, ayahnya sudah tidak tinggal lagi bersama Athirah, namun memilih tinggal bersama istri barunya.

Ketabahan dan ketahanan mental Athirah mendapat ujian yang tidak ringan. Perasaan tertekan, dan cemburu tentu memenuhi jiwa Athirah. Gejolak batin memiliki suami beristri lebih dari satu terus terjadi setiap hari. Beruntung ia memiliki putra sulung yang cerdas dan bertanggung jawab. Putra sulung itulah yang kelak akan menghadirkan banyak kebahagiaan bagi Athirah dan putra-putrinya.

Sebenarnya, novel Athirah ini bukan hanya bercerita tentang Athirah, namun juga mengisahkan tentang sosok putra tercinta, Jusuf Kalla. Kita diajak berkelana ke masa lalu saat Pak Kalla masih balita hingga meninggalnya ibunda tercinta. Kita akan mendapat banyak informasi tentang perjalanan hidup dan bisnis Pak Kalla sejak beliau lulus kuliah, bahkan sebelumnya.

Akan tetapi, kesalahan ketik masih saja terjadi. Begitupun pengaturan paragraf yang agak kurang rapi.

Secara umum, "Athirah" sangat layak dibaca generasi muda. Ada banyak pesan moral yang tersaji dalam novel ini. Mulai dari ketakwaan kepada Tuhan, disiplin, pantang menyerah dan tabah menerima cobaan. Novel ini adalah juga novel motivasi.


Arif Rahmawan, tenaga perpustakaan SMA N 1 Purwodadi

Resensi Buku Ani Yudhoyono - Kepak Sayap Putri Prajurit

Kisah Putri Seorang Tentara




Judul Buku: Ani Yudhoyono - Kepak Sayap Putri Prajurit
Pengarang :  Alberthiene Endah
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2010
Tebal : 551 halaman


Albertheine Endah merupakan sosok penulis biografi tokoh-tokoh penting negeri ini. Ia pernah menulis biografi Krisdayanti (2003), Chrisye (2007), Probosutedjo (2010), dan beberapa tokoh lainnya. Buku tentang Ibu Kristiani Herawati sendiri diterbitkan pada tahun 2010. Dengan begitu banyaknya karya biografi tokoh besar yang telah ditulisnya, Albertheine Endah tentu saja memiliki ketajaman dalam memilih dan memilah hal-hal unik dan terbaik dari tokoh untuk ditampilkan dalam buku yang ditulisnya. Hal itulah yang sepertinya juga terlihat dalam buku Ani Yudhoyono - Kepak Sayap Putri Prajurit.

Ani Yudhoyono - Kepak Sayap Putri Prajurit merupakan buku yang sangat unik. Buku tersebut bercerita tentang sosok seorang perempuan sipil bukan militer, akan tetapi sebagian besar isinya justru bercerita tentang dunia militer dan tentu saja tentang sosok lelaki. Siapakah lelaki-lelaki itu, tentu saja anda bisa menebak yaitu Sarwo Edie Wibowo dan Susilo Bambang Yudhoyono. Membaca buku ini, selain membuat kita mengenal Ibu Ani Yudhoyono, sekaligus akan membawa kita lebih mengenal lebih jauh siapakah kedua tentara itu.

Dalam pengamatan saya, Ibu Ani adalah sosok putri yang sangat membanggakan Papi-nya dan sosok istri yang sangat bangga memiliki seorang suami seperti Bapak SBY. Sang papi, Letjen (Purn) Sarwo Edhie Wibowo digambarkan sebagai sosok yang dandy, keren dan rapi. Papi juga sosok tentara yang memiliki nasionalisme dan kebanggaan sebagai prajurit yang tidak perlu diragukan. Sementara sosok SBY, sang suami digambarkan sebagai sosok pria yang cerdas, rajin membaca buku, pandai bernyanyi, dan sangat bertanggung jawab.

Pada bagian awal, Ibu Ani bercerita tentang bagaimana beliau menjalani masa kecil di berbagai tempat di negeri ini. Tuntutan tugas dari sang Papi, membuat beliau mau tidak mau harus cepat beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Ibu Ani begitu bahagia bisa mendapat bimbingan dan asuhan dari Papi dan ibu yang membiarkannya bermain-main akrab dengan alam sekitar.

Cerita pun bergulir dimulai sejak masa kecil bersama Papi dan Ibu hingga menjalani bahtera bersama SBY.

Perihal namaku, ada kisahnya tersendiri. Saat aku lahir, Papi sedang ditugaskan di Batalyon Kresna di Yogyakarta. Ini sebuah kebetulan, karena Papi jug sangat mengagumi tokoh pewayangan yang berkarakter baik, Kresna. Begitu aku lahir, Papi langsung mendapat ilham untuk menyematkan "Kresna" dalam namaku. Tentu saja tidak mungkin aku diberi nama Kresna, karena identik dengan laki-laki. Akhirnya Papi memberiku nama Kristiani. Sedangkan Herrawati dipilih Papi dari penggalan kisah yang pernah diceritakan ayahnya. (halaman 39)

Banyak yang tidak mengetahui bahwa Ibu Ani terlahir secara prematur. Beliau harus ditempatkan dalam inkubator rumah sakit. Akan tetapi dengan perawatan yang hati-hati, Ibu Ani tumbuh dengan sehat.

Masa remaja dilalui dengan berbagai peristiwa. Sempat kuliah di kedokteran, hingga akhirnya terpaksa berhenti kuliah lalu menjadi istri dari lulusan AKABRI terbaik tahun 1973. Semua itu diceritakan dengan cukup terperinci.

Setelah menikah, Ibu Ani hidup bersama sang perwira muda. Kemudian memiliki dua putra. Putra pertama meneruskan karir dalam bidang militer. Perjalanan selama mendampingi Bapak SBY juga menjadi momen yang mendebarkan sekaligus membanggakan beliau.

Buku setebal 551 halaman ini merupakan buku biografi yang enak untuk dibaca. Saya jarang menemukan kesalahan penulisan, atau kesalahan penulisan tanda baca dalam buku ini. Bab demi bab mengalir dengan cukup lancar. Gambar pendukung juga sangat membantu pembaca dalam memahami kejadian demi kejadian. Albertheine Endah berhasil menampilkan sosok Ibu Ani yang pada dasarnya agak aktif pada masa kecilnya hingga akhirnya menjadi sosok ibu negara yang anggun yang selalu mendampingi presiden.

Kekurangan dari buku ini sepertinya sangat sedikit. Apabila ada pembaca yang merasa bahwa buku ini terlalu sempurna menampilkan sosok Ibu Ani, mereka harus maklum bahwa buku ini adalah biografi. Atau bisa jadi memang seperti itulah sosok Ibu Ani.


Pentingnya Kecakapan Literasi Menghadapi Revolusi Industri 4.0



Heraclitus, seorang filsuf Yunani yang hidup 26 abad yang lalu, mengatakan bahwa tidak ada yang tidak berubah kecuali perubahan itu sendiri (Nothing endures but change). Begitupun dalam pola hidup manusia. Dari masa ke masa, perlahan tapi pasti, cepat atau lambat bergerak dan berubah.

Tiga puluh tahun yang lalu, kita atau  orangtua kita, mungkin tidak pernah menyangka bahwa kelak akan bisa melakukan komunikasi jarak jauh tanpa menggunakan kabel. Hingga akhirnya, ditemukanlah telepon genggam yang memungkinkan kita berdialog dengan seseorang di pulau lain.

Lalu, telepon genggam mulai berubah, berevolusi menjadi perangkat elektronik yang lebih cerdas, ia lantas menjadi telepon pintar yang bukan hanya mampu membuat orang berkomunikasi melalui suara, ia bahkan bisa membuat kita mampu berkomunikasi dengan melihat lawan bicara. Dalam perkembangannya, telepon pintar bukan lagi menjadi media komunikasi, ia juga menjadi media untuk melakukan berbagai kegiatan misalnya mencari informasi, menghitung, membayar tagihan, transportasi dan lain sebagainya.

Apakah evolusi telepon pintar hanya akan berhenti sebatas itu? Saya percaya tidak. Telepon pintar dan juga teknologi akan senantiasa berubah.

Kecakapan Literasi

Literasi bukan slogan atau gerakan tanpa dasar yang jelas. Gerakan ini hadir untuk merespon tuntutan zaman yang semakin bergerak dinamis. Negara-negara di dunia sudah bersiap menyambut kehadiran Revolusi Industri 4.0 dengan berbagai langkah. Termasuk negara Indonesia. Melalui Gerakan Literasi, negara ini bersiap untuk menyongsong Revolusi 4.0, agar tidak ketinggalan oleh negara lain.

Revolusi Industri 4.0 merupakan revolusi industri jilid 4, di mana teknologi dan internet menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Teknologi akan mengubah tradisi, budaya dan kebiasaan kita sehari-hari. Akan lahir kecerdasan-kecerdasan buatan yang kelak mampu mengggantikan tugas manusia.

Untuk itulah, sebagai generasi muda, sebagai pelajar, sekaligus sebagai millenial, tingkatkan kecakapan literasi kalian dengan sebaik-baiknya baik itu literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi finansial, literasi digital dan literasi budaya dan kewargaan.

Penguasaan literasi menjadi sangat penting agar kalian tidak gagap ketika revolusi industri 4.0 benar-benar tiba di hadapan kalian. Kalianlah yang nanti menjadi pelaku perubahan. Siapkah kalian menyambut Revolusi Industri 4.0 ?


Resensi Buku Bung Tomo - Dari 10 Nopember 1945 ke Orde Baru



Judul Buku : Bung Tomo Dari 10 Nopember 1945 ke Orde Baru (Kumpulan Karangan)
Penyunting: Frans M. Parera
Penerbit : Gramedia Jakarta 1982
Tebal Buku : 447 halaman

Melalui gambarnya yang begitu heroik, Bung Tomo menjadi sosok yang paling dikenang orang saat bangsa ini memperingati Hari Pahlawan, setiap 10 November. Di depan mikrofon, Bung Tomo nampak berdiri tegak begitu bersemangat mengangkat telunjuk.

Buku ini, bukan hanya menjelaskan siapakah Bung Tomo, pidatonya, keluarganya, pekerjaannya, dan kisah perjuangannya, melainkan juga menggambarkan situasi kota Surabaya pada saat kemerdekaan 17 Agustus, peristiwa Yamato 19 September, terbunuhnya Mallaby , 10 November 1945 hingga beberapa tahun setelahnya.

Soetomo memang seorang aktivis, sejak zaman penjajahan, ia mengikuti berbagai organisasi seperti Kepanduan Bangsa Indonesia, lalu mendirikan Parindra dan juga pernah bekerja sebagai wartawan di kantor berita Domei, milik Jepang. Karenanya ia mendapat banyak informasi tentang kemerdekaan Republik Indonesia. Lalu disebarkanlah informasi itu ke seluruh penjuru Surabaya baik melalui lisan maupun media resmi saat itu.

Pada tanggal 12 Oktober 1945 bersama dengan tokoh-tokoh seperti Sumarno, Asmanu, Abdullah, Amiadji, Sudjaro , Suluh Hangsono dan dibantu oleh pemimpin-pemimpin sopir becak, orang-orang tua yang berilmu gaib dan lain-lain, Bung Tomo mendirikan organisasi Pemberontakan Republik Indonesia (BPRI).

Badan ini merupakan badan ekstrem, yang bersama-sama rakyat jelata akan menimbulkan pemberontakan bila kedaulatan Republik Indonesia disinggung atau bila kehormatan para pemimpin yang sedang menjalankan diplomasi terancam (halaman 49).

Dengan pembagian tugas yang jelas, PRI mulai bergerak! Melalui radio pemberontakan, Bung Tomo mulai berpidato, membakar semangat para pejuang. Selain itu, Bung Tomo juga bertugas mendekati dan menyusun oraganisasi pertempuran yang terdiri atau dipelopori oleh kusir-kusir dokar, sopir-sopir becak dan pegawai-pegawai pelbagai jawatan.

Di tengah-tengah perjuangan, terjadi peristiwa yang cukup mengagetkan, Bung Tomo ditangkap oleh anggota Pemuda Republik Indonesia, sebuah organisasi perjuangan para pemuda di bawah pimpinan Soemarsono. Ia dibawa menemui Roestam Zain. Ternyata, penangkapan itu disebabkan salah paham para anggota dalam menerjemahkan perintah pimpinannya. Para pemuda itu mendapat perintah dari Dr. Moestopo untuk "melindungi" Bung Tomo. Selama ini, istilah melindungi digunakan oleh para pemuda untuk menangkap orang.


Ada tiga orang yang sering dipanggil bung yaitu Bung Karno, Bung Hatta dan Bung Tomo. Hubungan "Bung Kecil" dengan Bung Karno dan Bung Hatta memang mengalami pasang surut, terutama dengan Bung Karno. Meskipun pernah diangkat sebagai Jenderal Mayor oleh Bung Karno, ia tak segan menggugat kabinet Kerja yang dipimpin Bung Karno. Salah satunya karena pembubaran DPR. Gugatan itu diucapkan di muka sidang pengadilan Negeri Istimewa Jakarta, 24 Agustus 1960.

Buku ini cukup lengkap menguraikan sosok Bung Tomo baik pada era penjajahan, Orde lama maupun orde baru. Secara umum, Bung Tomo merupakan sosok yang egaliter, suka berterus terang, tegas dan apa adanya, yang mungkin menjadi ciri khas arek-arek suroboyo. Ia begitu luwes bergaul dengan masyarakat awam seperti tukang becak, kusir dan lain-lain. Pada masa orde lama Ia juga tidak canggung bergaul dengan tokoh bangsa seperti Bung Karno, Amir Syarifudin, Jenderal Oerip Sumoharjo,  Jenderal Sudirman dan lain-lain.


Kiprah gemilang selama masa perjuangan  ternyata tak berlanjut hingga damai. Ia turut mendirikan sebuah partai, namun kalah. Kisah Bung Kecil berakhir di Arab Saudi pada 7 Oktober 1981.





Mengapa Kita Malas Membaca Buku ?



Di negara Amerika Serikat, rata-rata warganya yang berusia 18 tahun biasa menghabiskan membaca 11-20 buku dalam setahun. 

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia, Puan Maharani pernah mengatakan,"Rata-rata orang Indonesia hanya membaca buku 3-4 kali per minggu, dengan durasi waktu membaca per hari rata-rata 30-59 menit. Sedangkan, jumlah buku yang ditamatkan per tahun rata-rata hanya 5-9 buku."

"Itu berdasarkan hasil penelitian perpustakaan nasional tahun 2017," kata Puan.


The World’s Most Literate Nations (WMLN) telah merilis hasil penelitian tentang minat baca negara-negara di dunia. Negara Indonesia berhasil meraih peringkat 60. Sebuah prestasi yang cukup membuat kita tersipu malu.

Rendahnya minat baca masyarakat Indonesia membuat kita bertanya-tanya, apa sebenarnya yang menyebabkan minat baca di negara ini begitu rendah? 

Mengapa kita malas membaca buku ?

1. Kita merasa belum membutuhkan buku
Hal ini benar adanya, sudah sejak bertahun-tahun yang lalu, masyarakat Indonesia hidup tenteram dan damai di tanah air yang gemah ripah loh jinawi. Saat itu tidak ada buku. Masyarakat tidak butuh buku untuk hidup sehari-hari. Lalu, muncullah pendidikan, ditandai dengan berdirinya gedung-gedung sekolah. Saat itulah anak-anak mulai mengenal huruf, dan mengenal angka. Buku hanya dibaca oleh kelompok pelajar. Sementara itu, kelompok masyarakat lain menganggap buku tidak dibutuhkan, sebab kehidupan sehari-hari tetap berjalan tanpa adanya buku.

2. Lemahnya tradisi membaca buku di keluarga dan masyarakat
Tradisi membaca buku tidak timbul begitu saja di kalangan masyarakat. Para guru boleh saja menyuruh para muridnya membaca buku, namun ketika anak-anak penerus generasi bangsa tersebut tiba di rumah, siapa yang akan mengawasi mereka? Mungkin orangtua. Akan tetapi jika orangtua hanya mengawasi tanpa memberi teladan membaca buku, jangan harap anak-anak tersebut bakal rajin membaca buku.

3. Harga buku yang Mahal
Harga buku memang mahal sebab ada banyak pihak yang terlibat dalam proses penerbitan buku. Hal ini menjadi tantangan bagi pemerintah maupun siapa saja yang terlibat dalam proses penerbitan buku untuk menghasilkan buku yang terjangkau oleh tangan masyarakat. Masyarakat saat ini menunggu hadirnya toko buku atau di berbagai pelosok daerah dengan harga yang terjangkau.

4. Kita menganggap bahwa membaca buku menghabiskan waktu.
Anggapan tersebu tidak sepenuhnya salah. Membaca buku memang menyita banyak waktu dalam kehidupan kita. Akan tetapi kita tidak boleh maklum dengan alasan tersebut, terutama bagi kalangan pelajar. Justru pelajar harus menghabiskan waktunya dengan membaca buku, setiap hari, setiap saat karena memang itulah tugas mereka.

5. Kurangnya Peran Pemerintah

Pemerintah merupakan pihak yang memiliki kekuatan untuk mengubah segala sesuatu di negara ini, termasuk mengubah dan menaikkan minat baca masyarat. Pemerintah bisa menerbitkan peraturan yang mendukung dan memaksa masyarakat untuk membaca buku.

6. Terbatasnya jumlah buku
Bukan hanya jumlah buku yang terbatas, melainkan juga jumlah jenis buku. Hal itu menyebabkan kita memiliki pilihan yang terbatas terhadap buku.

sumber :

https://nasional.kompas.com/read/2018/03/26/14432641/per-hari-rata-rata-orang-indonesia-hanya-baca-buku-kurang-dari-sejam

http://pustakawanjogja.blogspot.com/2016/03/peringkat-negara-literasi-di-dunia-no-1.html